Cerpen - Hanya Tamu

Rabu, Mei 24, 2017


Pagi ini, cerah. Tak seperti biasanya. Tak ada mendung. Pun tanda-tanda yang mengikutinya. Pagi ini, lembaran baru itu akan ku jalani...

Sedari kecil, aku mengenalnya. Menemaninya tumbuh dewasa. Mungkin karena waktu kami lahir hanya berbeda 22 hari saja. Tak ada yang istimewa. Tak ada. Sama seperti pertemanan yang mungkin sedang kalian jalani. Hingga waktu itu ia menceritakan perasaannya. Ada perasaan bingung, kesal mendengarnya. Mungkin aku terlalu percaya diri, menganggap diriku sebagai orang yang paling berarti di hidupnya. Tapi bukan. Dan tak ada yang bisa kulakukan, selain tersenyum mencoba menerka apa yang sebenarnya kurasakan. Aku cemburu?

Waktu kian cepat berlalu. Kita tak sedekat dulu. Kami berpisah. Mungkin karena keinginan yang berbeda arah. Aku bertemu dengan banyak orang baru, begitupun dia. Kami tumbuh dewasa, tentu dengan definisi masing-masing. Tapi lihatlah, kami tak sekalipun saling melupakan. Selalu ada kabar yang tak perlu kami tanyakan. Hingga hari itu, ku dengar kabar bahagia, baginya. Ia akan menikah.

Pagi ini, semesta mendukung tujuan itu. Kali ini aku tak akan berbohong. Aku tak suka melihatnya bahagia. Aku merasa paling berhak menemaninya. Mungkin terlihat memaksa, tapi itulah yang kurasa. Walau akhirnya kutau, itu semua tak bisa lagi kudapat ataupun sekadar berharap. Pernah, aku pernah berusaha. Setahun yang lalu. Di tanggal yang sama, aku sempat menyatakannya..

Tenang, aku tak akan berbuat hal gila, Sudah ku siapkan jauh-jauh hari, wajah dengan raut bahagia. Dan aku? Aku hanya tamunya....

Sekian.

You Might Also Like

1 komentar

Instagram